Movie Review : I Know Who killed Me
Abis makan malem, ngobrol2 CITO (City of Tommorrow)
akhirnya bertiga bersama para ’sparing partner’ saya
(satu dari jkt, satu dari sby juga)
kita memutuskan untuk nonton..
Awalnya sih pengen filmnya yg simple menghibur,
seperti Bedtime Story or Escape to Africa
tapi ternyata salah satu dah pernah nonton film2 pilihan tersebut,
teman dr jkt sempat usul nonton film horor
spontan dengan serunya, langsung saya tolak
krn kami berdua yg sama2 dari sby ini
nggak demen nonton film2 horor,
sederhana dan jujurnya, kita penakut :p
langsung aja temen dr jkt tertawa terbahak2..
well, mau ditertawai or diledek seperti apa pun,
untuk soal anti film horor ini,
saya mah cuek abis, yg penting
ntar pulang rumah, tidur di kamar sendirian
dalam kegelapan, tetap bisa bernafas teratur
mimpi indah dan esok pagi bangun
dengan segar dan semangat baru ![]()
Back to the topic..
Akhirnya we decided nonton I know Who killed me
Meski dari posternya sudah keliatan serem buat temen sby
tapi krn saya udah sempat baca resensinya di majalah
saya tegaskan ke dia kalo ini bukan horor
cuman film sejenis thriller
menegangkan, tapi masih masuk akal
dan tetap bisa bikin tidur nyenyak dlm gelap ![]()
Adegan awalnya artisnya menari striptease pake kostum merah
kesannya pertama sih, ini film murahan model BF
tapi pas cerita mulai mengalir, mulai seru..
permainan warna biru mendominasi sepanjang film
persis seperti nuansa posternya, biru dan hitam
seolah2 sinar biru menyeruak di kegelapan
dan seterusnya detail2 berwarna biru menjadi perhatian
mulai dari sarung tangan latex dokter dan pembunuh yg berwarna biru
piala biru, kamar biru, apalagi yah..
banyak deh yg serba biru..
Tokoh utamanya mengalami amputasi2 yg cukup mengerikan
di awal cerita cukup membingungkan
apakah tokohnya hanya seorang, yakni pelajar yg diculik
sedang yg lainnya hanya khayalan
ataukah justru tokohnya sang penari striptease
sedang tokoh khayalanannya adalah sang pelajar
Makin ke jauh cerita mengalir,
makin membingungkan dan ketika ada adegan semacam ilusi
dimana sang tokoh mendapat penglihatan2
tentang hutan, burung hantu dan sungai di kaca almari pakaiannya,
saya tiba-tiba meragukan ketegasan awal yg telah saya berikan
bahwa ini adalah film thriller bukan film horor !!
(aihhh.. cuma dari majalah aja jadi sok tau banget..:p)
Syukurlah.. di akhir film akhirnya bisa ditegaskan
bahwa ini bener2 film thriller, bukan horor :p
Hanya saja penonton nggak bener2 bisa puas mengikuti ceritanya
karena ternyata fokus cerita sepertinya bergeser
bukan tentang penyiksaan yg dilakukan oleh penculik
ataupun latar belakang yg memicu perilaku penculiknya
tapi ke hubungan antar tokoh
yang ternyata semuanya tokoh nyata
nggak ada tokoh khayalan..
Dan tokoh2 dalam film ini, serba mengambang
nggak terlihat tegas karakter masing2
nggak tau memang dari scriptnya sudah begitu
atau dari akting pemain2nya yg tanggung
Terlepas dari semua itu,
buat kami bertiga, film ini lumayan menghibur kok
At least, bisa buat bahan cela-celaan diri sendiri
mulai dari soal nggak suka film horor,
sampai keraguan yg muncul tentang jenis film ini (thriller or horor) :p