Berikut percakapan seputar diterimanya
sebuah undangan pernikahan
oleh penerima undangan dengan temannya…
Penerima undangan :
“Wah bulan ini banyak undangan nikah lho”
Teman penerima undangan :
“Enak dong.. makan2 teyus..:)”
Penerima undangan :
“Iya sih.. tapi ngasih kadonya itu lho…
Kalo banyak yang married, berarti tambah pengeluaran juga kan..”
Teman penerima undangan :
(Diem.. Berpikir..)
…Idealnya undangan pernikahan kan harusnya begini..
Dari sisi yang mengirimkan undangan pernikahan,
tujuan memberikan undangan kan
menyatakan kabar gembira sekaligus
bermaksud membagi kebahagiaannya
pada para undangan..
Dari sisi yang menerima undangan,
merasa bangga, haru karena diberi kesempatan
menjadi bagian dari sebuah kebahagiaan
Cuman emang di undangan jaman sekarang itu
sering ada gambar tulisan ataupun simbol
yang intinya menyatakan bahwa pengantin
tidak menerima, kado barang ataupun bunga
atau bahasa halusnya, lebih berkenan menerima uang
Nah ide pemberian ini yang kemudian hari
membuat penerima undangan kadang2 merasa keberatan
tidak bisa melihat keinginan pemberi undangan
yang bermaksud membagi kebahagiannya itu…
Dan percakapan berlanjut…
Teman penerima undangan :
“Ya.. kalo keberatan.. kenapa enggak nelpon aja
and say sorry kalo nggak bisa hadir
karang aja alasan apa kek..”
Penerima undangan :
“Nggak enak juga sih kalo enggak datang
kan udah ngeluang-in waktu, tenaga dan biaya
buat bikin undangan, nganter-in sampai
nyedia-in tempat dan hidangan..”
Teman penerima undangan :
“So…??”
Penerima undangan :
“Ya wajib hadirlah…”
Teman penerima undangan :
(Diem… Berpikir….
….Terus pernyataan yang sepertinya sebuah keluhan atau keberatan
bahwasanya akan ada pengeluaran tambahan itu tadi
buat apa dinyatakan???? ….)